Portofolio
Mata
Kuliah Bahasa
Indonesia
Dosen Pembimbing: Arif Setiawan M.pd

Oleh :
Siti Aminah (201310360311031)
JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2013
Portofolio
Mata
Kuliah Bahasa Indonesia
![]() |
1)
Identitas
Diri
Nama :
Siti Aminah
NIM :
201310360311031
Mata Kuliah :
Bahasa Indonesia
Dosen :
Arif Setiawan M.pd
Kelas :
HI A
Tugas tentang :
Sejarah, Ragam Bahasa, Makalah, Resensi, dan Essai
Kesan dan Pesan : Senang mempelajari materi-materi ini, karena
materi-materi ini semakin memperluas pengetahuan saya. Lebih menyenangkan lagi
jika diperbanyak tugas tentang membuat Essai dan Resensi, agar dapat membuat
tulisan kami semakin bagus.
2)
Materi yang telah dipahami
1.
Sejarah, Fungsi, dan
Kedudukan Bahasa Indonesia
2.
Ragam Bahasa Indonesia
3.
Paragraf
Persuasif
4.
Resensi
5.
Essai
3)
Materi yang belum dipahami
1.
Teknik Penulisan
Paragraf Persuasif
2.1 Sejarah, Fungsi, dan Kedudukan
Bahasa Indonesia

Pada dasarnya Bahasa Indonesia
berasal dari bahasa Melayu. Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu di pakai
sebagai bahasa penghubung antar suku di Nusantara dan sebagai bahasa yang di
gunakan dalam perdagangan antara pedagang dari dalam Nusantara dan dari luar Nusantara.
Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong
tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia, oleh karena
itu para pemuda indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara
sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa indonesia menjadi bahasa
persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia.
2.2
Ragam Bahasa Indonesia

Ragam bahasa adalah variasi
penggunaan bahasa yang pemakaianya berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan
menurut hubungan pembicara, kawan bicara, dan orang yang dibicarakan, serta
menurut medium pembicaraan. Ragam bahasa timbul seiring dengan perubahan
masyarakat, yaitu perubahan berupa variasi-variasi bahasa yang dipakai sesuai
keperluannya.
2.3 Paragraf Persuasif











2.4 Resensi
MENUJU KEDEWASAAN

Identitas Film
Judul
Film : The Hangover Part
III
Sutradara : Todd Phillips dan Craig
Mazin
Rumah
Produksi : Legendary Picture
Tahun
Rilis : 21 Mei 2013
Durasi : 100 menit
Presensi : Siti Aminah
Dua tahun setelah kejadian di bangkok, Leslie Chow melarikan diri
dari penjara yang sudah dijaga ketat. Sedangkan di amerika, Alan Garner (Zach Galifianakis)
menyebabkan 20 mobil di jalan raya bertabrakan setelah ia membeli jerapah dan
membuat kepalanya terpental ketika melewati bawah jembatan yang rendah. Ayah
alan, Sid (Jeffrey Tamborr) marah besar dan berjanji tidak akan menanggung
kesalahan anaknya yang telah berusia 42 tahun itu lagi. Dari kemarahannya itu,
Ayah alan meninggal karena serangan jantung.
Setelah pemakaman, saudara ipar alan Doug Billings (Justin Bartha)
memberitahukan teman-temannya, Phil Wenneck (Bradley Cooper)
dan Stu Price (Ed Helms) bahwa Alan sudah menghentikan Medikasi ADHD nya dan sudah diluar kendali. Karena itu, mereka
berencana membujuk alan mengunjungi fasilitas rehab di Arizona dengan tujuan
mengubah alan menjadi pria yang baik. Alan menyetujuinya.
Dalam perjalanan ke arizona, mereka dihambat oleh sekelompok
orang yang mengancam akan membunuh Doug
Billing jika mereka tidak memenuhi permintaan sekelompok orang yang dikepalai
oleh Marshall yaitu menangkap Leslie Chow (Ken Jeong) yang telah mengambil
setengah dari emas-emasnya yang senilai 42 juta Dollar. Marshall yakin mereka
bisa menangkap leslie chow, karena dari yang ia ketahui satu-satunya orang yang
pernah berkomunikasi baik dengan leslie chow selama dipenjara adalah alan.
Proses usaha pencarian Leslie Chow itulah yang akhirnya membuat
alan berubah menjadi diri yang baik dari yang asalnya selalu membuat ulah dan
menyusahkan keluarganya. Disinilah film ini memberi inspirasi kepada
orang-orang yang menontonnya dalam suatu pendewasaan bahwa setua apapun seseorang
tapi ia masih bisa berubah menjadi dewasa dan pribadi yang baik, dan juga betapa pentingnya dukungan dari
orang-orang disekitarnya. Selain itu, film ini juga menghibur penontonnya
dengan bungkusan komedinya yang tidak jarang datang dari kekonyolan alan.
Namun tidak seperti film sebelumnya yaitu hangover pertama dan yang
kedua, film ini lebih sedikit memberikan kesan komedi. Sehingga membuat
penonton agak kecewa karena tidak sesuai dengan yang diharapkan yaitu nuansa
komedi yang lebih. Tapi film ini tetap seru untuk ditonton karena film ini
lebih dari cukup untuk dijadikan hiburan.
2.5 Essai
Kemacetan di Jakarta
Oleh: Siti Aminah
Kemacetan di daerah ibu kota telah menjadi penyakit kronis sejak
awal tahun 1990-an, dengan kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan. Berbagai
solusi ditawarkan, namun tidak satupun berjalan efektif untuk mengatasinya,
karena solusi yang ditawarkan (misal: jalur 3-in-1, jalur khusus bus, perbaikan
jalan, dan pembangunan jalan tol) cenderung terpilah-pilah (parsial), tidak
sistematis, dan tidak kontinu.
Ibukota
negara mendapat perhatian yang berlebihan dalam semua aspek pembangunan, baik
industri, infra suruktur maupun birokrasinya. Sementara daerah lain mendapatkan
porsi dan perhatian yang lebih kecil. Sehingga terjadi ketidakseimbangan. Belum
lagi pembangunan banyak yang tidak berorientasi lingkungan, sehingga dampaknya
menjadi rawan banjir, longsor. dan sebagainya. Dampak yang lebih besar mungkin
saja akan terjadi dalam beberapa tahun mendatang. Jakarta sepertinya tempat
untuk praktek segala aktivitas kehidupan di Indonesia, tanpa ada perencanaan
yang matang.
Sebagai
sebuah negara yang luas dan terdiri dari banyak pulau dan jumlah penduduk yang
besar. Perlu dipikirkan suatu sistem yang sesuai dalam menata negara ini.
Mungkin kita bisa meniru sistem yang dipakai di Amerika Serikat, karena hampir
ada kemiripan dalam hal luas daerah dan jumlah penduduk Selama ini pertambahan
jumlah kendaraan meningkat dengan pesat sementara pertambahan jalan bisa
dikatakan tidak ada pertambahan yang signifikan. Selain itu, faktor yang turut
berperan dalam kemacetan adalah banyak pengendara yang tidak disiplin dan tidak
mematuhi peraturan berlalu lintas serta jumlah penduduk DKI Jakarta yang semakin
banyak akibat urbanisasi.
Beberapa
cara yang telah ditempuh oleh pemerintah DKI Jakarta dalam mengatasi kemacetan,
seperti memberlakukan three in one pada jalan-jalan tertentu dan membangun
transportasi Busway Tapi nampaknya usaha tersebut tetap saja tidak bisa
mengatasi kemacetan. Khusus untuk busway, transportasi massal jenis ini memang
sangat dibutuhkan, tapi bukan untuk mengatasi kemacetan, justru sebaliknya,
karena jalan yang digunakan oleh busway tidak dibarengi dengan pelebaran jalan,
sehingga jalan semakin sempit akibatnya makin menimbulkan kemacetan. Di samping
itu masyarakat pengguna busway justru dimonopoli oleh masyarakat yang nota bene
tidak memiliki kendaraan roda empat.
Jakarta
sebagai Ibukota Republik Indonesia disokong oleh beberapa daerah seperti Bogor,
Bekasi, Tangerang, dan Depok. Di mana banyak masyarakat atau penduduk yang
bertempat tinggal di daerah-daerah tersebut bekerja di Jakarta. Bisa
dibayangkan kalau sebagian besar dari mereka menggunakan kendaraan ditambah
dengan penduduk Jakarta yang terus bertambah. Jakarta jadi membludak dan
akibatnya kemacetan terjadi di mana-mana.
Sebagai
negara yang masih berkembang, tentu masyarakatnya, berlomba-lomba menuju ke
penghidupan yang lebih baik. Pada umumnya, mereka mengukur kesuksesan dengan
memiliki kendaraan roda 4 (mobil). Ada kebanggaan dalam dirinya dan ingin
menunjukkan kepada keluarga, teman, dan masyarakat di sekelilingnya bahwa ia
telah sukses. Semakin banyak mobil semakin kaya (sukses) dan banggalah ia.
Kemacetan
di Jakarta
juga disebabkan :
·
Putaran Arah (U-Turn).
Ini tidak di-design dengan baik. Hampir pada setiap u-turn terjadi kemacetan.
Bagian tata kota khususnya lalu lintas tidak menjalankan tugasnya dengan baik.
Banyak kasus kendaraan melakukan u-turn sampai 2 atau 3 jalur sedangkan lebar
jalan hanya 4 jalur.
·
Hujan, cukup setengah jam saja bisa membuat Jakarta
macet total. Lagi - lagi sistem tata kota yang kurang apik. Alasan lainnya
semua memilih naik mobil sendiri dan pada akhirnya mempersempit jalan sehingga
membuat kemacetan yang panjang.
·
Kesalahan teknis seperti lampu lalu lintas yang mati.
Ataupun ada kendaraan yang mogok di tepi atau tengah jalan.
·
Persimpangan tanpa lampu lalu lintas.
·
Perilaku kendaraan umum
menaikkan dan menurunkan di sembarang tempat. Sering kali juga menaikkan atau
menurunkan penumpang di tengah2 jalan karena sopirnya malas menepi.
·
Rendahnya disiplin
masyarakat. Baik pemilik mobil, motor, sopir kendaraan umum, penumpang
kendaraan umum, pengguna jalan, pedagang kaki lima. Semua turut mempunyai andil
dalam kemacetan di Jakarta.
Karena
kemacetan tersebut, dampaknya pun juga sangat merugikan.
Ø Secara ekonomi, kemacetan menyebabkan peningkatan waktu tempuh
(inefisiensi waktu), biaya transportasi secara signifikan, gangguan yang serius
bagi pengangkutan produk-produk ekspor-impor (logistik secara umum), penurunan
tingkat produktivitas kerja, dan pemanfaatan energi yang sia-sia.
Ø Selain itu, kemacetan pun memberikan dampak yang serius bagi
penurunan kualitas lingkungan perkotaan (khususnya tingkat kebisingan dan
polusi udara) dan penurunan tingkat kesehatan (misal: pemicu lahirnya berbagai
penyakit pernapasan, tekanan psikologis/stress, dsb).
Ø Dalam konteks perubahan iklim (climate change) yang kini tengah
menjadi hot topic bagi masyarakat dunia, kemacetan lalu lintas di kota-kota
utama dunia telah menjadi salah satu kontributor utama dalam emisi gas-gas
rumah kaca ke atmosfir yang menyebabkan peningkatan temperatur bumi yang
signifikan sejak kota-kota tersebut tumbuh pesat.
Ø Sebuah
penelitian yang dilakukan oleh Bappenas tahun 2006 menunjukkan bahwa kemacetan
di Jakarta menimbulkan kerugian ekonomi sebesar Rp. 7 Trilyun/tahun yang
dihitung untuk 2 (dua) sektor saja, yakni energi (Rp. 5,57 T/tahun) dan
kesehatan (Rp. 1,7 T/tahun). Sementara Yayasan Pelangi memperkirakan kerugian
bisa membengkak hingga Rp. 43 Trilyun per tahun akibat menurunnya produktivitas
kerja, pemborosan BBM dan pencemaran udara.
Sebagai
sebuah negara yang luas dan terdiri dari banyak pulau dan jumlah penduduk yang
besar. Perlu dipikirkan suatu sistem yang sesuai dalam menata negara ini.
Mungkin kita bisa meniru sistem yang dipakai di Amerika Serikat, karena hampir
ada kemiripan dalam hal luas daerah dan jumlah penduduk.
Ide
tentang perpindahan ibu kota dan pembagian daerah (kota) sesuai dengan
aktifitas terbesarnya juga mungkin merupakan solusi yang bisa dipertimbangkan,
dipikirkan dan direncanakan secara matang. Namun itu merupakan solusi jangka
panjang. Yang harus segera dilaksanakan, yaitu bagaimana untuk segera mengatasi
kemacetan di Jakarta.
Menurut saya, berikut
ini bisa
menjadi solusi dalam mengatasi kemacetan di Jakarta, antara lain:
ü Jalur
three in one lebih diperluas wilayahnya dan tidak menggunakan batas waktu.
ü Jalan-jalan
yang dilalui busway yang menyebabkan penyempitan badan jalan harus segera
diperlebar.
ü Membangun
transportasi massal lain, seperti misalnya subway atau monorel.
ü Menerapkan
usia kendaraan yang layak beroperasi. Ini juga dapat mengurangi polusi.
ü Meningkatkan
tarif pajak kendaraan bermotor, khususnya kendaraan roda empat.
ü Mengadakan
pelatihan atau seminar kepada supir-supir angkutan umum tentang
keselamatan dan peraturan berlalu lintas.
ü Menegakkan
aturan dengan menindak tegas semua pelanggar lalu lintas tanpa kecuali ataupun
oknum polisi yang berbuat pungli.
ü Memperbanyak
dan terus menerus mengingatkan masyarakat melalui spanduk, brosur, ataupun
iklan tentang disiplin berlalu lintas. Baik di media Cetak ataupun media
elektronik.
Pada
dasarnya semua orang wajib bertanggung jawab atas kemacetan ini. Tapi saya pribadi berfikir, pemerintahlah
yang seharusnya lebih bertindak tegas lagi. Selain melaksanakan solusi-solusi diatas, pemerintah juga harus kontinu
dalam usaha perbaikan kemacetan di Jakarta ini. Supaya usaha-usaha tersebut
bisa mendapatkan hasil yang efektif yaitu teratasinya masalah kemacetan di
Jakarta.
