Oleh: Siti Aminah
Kemacetan di daerah ibu kota telah menjadi penyakit kronis sejak
awal tahun 1990-an, dengan kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan. Berbagai
solusi ditawarkan, namun tidak satupun berjalan efektif untuk mengatasinya,
karena solusi yang ditawarkan (misal: jalur 3-in-1, jalur khusus bus, perbaikan
jalan, dan pembangunan jalan tol) cenderung terpilah-pilah (parsial), tidak
sistematis, dan tidak kontinu.
Ibukota
negara mendapat perhatian yang berlebihan dalam semua aspek pembangunan, baik
industri, infra suruktur maupun birokrasinya. Sementara daerah lain mendapatkan
porsi dan perhatian yang lebih kecil. Sehingga terjadi ketidakseimbangan. Belum
lagi pembangunan banyak yang tidak berorientasi lingkungan, sehingga dampaknya
menjadi rawan banjir, longsor. dan sebagainya. Dampak yang lebih besar mungkin
saja akan terjadi dalam beberapa tahun mendatang. Jakarta sepertinya tempat
untuk praktek segala aktivitas kehidupan di Indonesia, tanpa ada perencanaan
yang matang.
Sebagai
sebuah negara yang luas dan terdiri dari banyak pulau dan jumlah penduduk yang
besar. Perlu dipikirkan suatu sistem yang sesuai dalam menata negara ini.
Mungkin kita bisa meniru sistem yang dipakai di Amerika Serikat, karena hampir
ada kemiripan dalam hal luas daerah dan jumlah penduduk Selama ini pertambahan
jumlah kendaraan meningkat dengan pesat sementara pertambahan jalan bisa
dikatakan tidak ada pertambahan yang signifikan. Selain itu, faktor yang turut
berperan dalam kemacetan adalah banyak pengendara yang tidak disiplin dan tidak
mematuhi peraturan berlalu lintas serta jumlah penduduk DKI Jakarta yang semakin
banyak akibat urbanisasi.
Beberapa
cara yang telah ditempuh oleh pemerintah DKI Jakarta dalam mengatasi kemacetan,
seperti memberlakukan three in one pada jalan-jalan tertentu dan membangun
transportasi Busway Tapi nampaknya usaha tersebut tetap saja tidak bisa
mengatasi kemacetan. Khusus untuk busway, transportasi massal jenis ini memang
sangat dibutuhkan, tapi bukan untuk mengatasi kemacetan, justru sebaliknya,
karena jalan yang digunakan oleh busway tidak dibarengi dengan pelebaran jalan,
sehingga jalan semakin sempit akibatnya makin menimbulkan kemacetan. Di samping
itu masyarakat pengguna busway justru dimonopoli oleh masyarakat yang nota bene
tidak memiliki kendaraan roda empat.
Jakarta
sebagai Ibukota Republik Indonesia disokong oleh beberapa daerah seperti Bogor,
Bekasi, Tangerang, dan Depok. Di mana banyak masyarakat atau penduduk yang
bertempat tinggal di daerah-daerah tersebut bekerja di Jakarta. Bisa
dibayangkan kalau sebagian besar dari mereka menggunakan kendaraan ditambah
dengan penduduk Jakarta yang terus bertambah. Jakarta jadi membludak dan
akibatnya kemacetan terjadi di mana-mana.
Sebagai
negara yang masih berkembang, tentu masyarakatnya, berlomba-lomba menuju ke
penghidupan yang lebih baik. Pada umumnya, mereka mengukur kesuksesan dengan
memiliki kendaraan roda 4 (mobil). Ada kebanggaan dalam dirinya dan ingin
menunjukkan kepada keluarga, teman, dan masyarakat di sekelilingnya bahwa ia
telah sukses. Semakin banyak mobil semakin kaya (sukses) dan banggalah ia.
Kemacetan
di Jakarta
juga disebabkan :
·
Putaran Arah (U-Turn).
Ini tidak di-design dengan baik. Hampir pada setiap u-turn terjadi kemacetan.
Bagian tata kota khususnya lalu lintas tidak menjalankan tugasnya dengan baik.
Banyak kasus kendaraan melakukan u-turn sampai 2 atau 3 jalur sedangkan lebar
jalan hanya 4 jalur.
·
Hujan, cukup setengah jam saja bisa
membuat Jakarta macet total. Lagi - lagi sistem tata kota yang kurang apik.
Alasan lainnya semua memilih naik mobil sendiri dan pada akhirnya mempersempit
jalan sehingga membuat kemacetan yang panjang.
·
Kesalahan teknis seperti lampu lalu
lintas yang mati. Ataupun ada kendaraan yang mogok di tepi atau tengah jalan.
·
Persimpangan tanpa lampu lalu lintas.
·
Perilaku kendaraan umum
menaikkan dan menurunkan di sembarang tempat. Sering kali juga menaikkan atau
menurunkan penumpang di tengah2 jalan karena sopirnya malas menepi.
·
Rendahnya disiplin masyarakat.
Baik pemilik mobil, motor, sopir kendaraan umum, penumpang kendaraan umum,
pengguna jalan, pedagang kaki lima. Semua turut mempunyai andil dalam kemacetan
di Jakarta.
Karena
kemacetan tersebut, dampaknya pun juga sangat merugikan.
Ø Secara ekonomi, kemacetan menyebabkan peningkatan waktu tempuh
(inefisiensi waktu), biaya transportasi secara signifikan, gangguan yang serius
bagi pengangkutan produk-produk ekspor-impor (logistik secara umum), penurunan
tingkat produktivitas kerja, dan pemanfaatan energi yang sia-sia.
Ø Selain itu, kemacetan pun memberikan dampak yang serius bagi
penurunan kualitas lingkungan perkotaan (khususnya tingkat kebisingan dan
polusi udara) dan penurunan tingkat kesehatan (misal: pemicu lahirnya berbagai
penyakit pernapasan, tekanan psikologis/stress, dsb).
Ø Dalam konteks perubahan iklim (climate change) yang kini tengah
menjadi hot topic bagi masyarakat dunia, kemacetan lalu lintas di kota-kota
utama dunia telah menjadi salah satu kontributor utama dalam emisi gas-gas rumah
kaca ke atmosfir yang menyebabkan peningkatan temperatur bumi yang signifikan
sejak kota-kota tersebut tumbuh pesat.
Ø Sebuah
penelitian yang dilakukan oleh Bappenas tahun 2006 menunjukkan bahwa kemacetan
di Jakarta menimbulkan kerugian ekonomi sebesar Rp. 7 Trilyun/tahun yang
dihitung untuk 2 (dua) sektor saja, yakni energi (Rp. 5,57 T/tahun) dan
kesehatan (Rp. 1,7 T/tahun). Sementara Yayasan Pelangi memperkirakan kerugian
bisa membengkak hingga Rp. 43 Trilyun per tahun akibat menurunnya produktivitas
kerja, pemborosan BBM dan pencemaran udara.
Sebagai
sebuah negara yang luas dan terdiri dari banyak pulau dan jumlah penduduk yang
besar. Perlu dipikirkan suatu sistem yang sesuai dalam menata negara ini.
Mungkin kita bisa meniru sistem yang dipakai di Amerika Serikat, karena hampir
ada kemiripan dalam hal luas daerah dan jumlah penduduk.
Ide
tentang perpindahan ibu kota dan pembagian daerah (kota) sesuai dengan
aktifitas terbesarnya juga mungkin merupakan solusi yang bisa dipertimbangkan,
dipikirkan dan direncanakan secara matang. Namun itu merupakan solusi jangka
panjang. Yang harus segera dilaksanakan, yaitu bagaimana untuk segera mengatasi
kemacetan di Jakarta.
Menurut saya, berikut
ini bisa
menjadi solusi dalam mengatasi kemacetan di Jakarta, antara lain:
ü Jalur
three in one lebih diperluas wilayahnya dan tidak menggunakan batas waktu.
ü Jalan-jalan
yang dilalui busway yang menyebabkan penyempitan badan jalan harus segera
diperlebar.
ü Membangun
transportasi massal lain, seperti misalnya subway atau monorel.
ü Menerapkan
usia kendaraan yang layak beroperasi. Ini juga dapat mengurangi polusi.
ü Meningkatkan
tarif pajak kendaraan bermotor, khususnya kendaraan roda empat.
ü Mengadakan
pelatihan atau seminar kepada supir-supir angkutan umum tentang
keselamatan dan peraturan berlalu lintas.
ü Menegakkan
aturan dengan menindak tegas semua pelanggar lalu lintas tanpa kecuali ataupun
oknum polisi yang berbuat pungli.
ü Memperbanyak
dan terus menerus mengingatkan masyarakat melalui spanduk, brosur, ataupun
iklan tentang disiplin berlalu lintas. Baik di media Cetak ataupun media
elektronik.
Pada
dasarnya semua orang wajib bertanggung jawab atas kemacetan ini. Tapi saya pribadi berfikir, pemerintahlah
yang seharusnya lebih bertindak tegas lagi. Selain
melaksanakan solusi-solusi diatas, pemerintah juga harus kontinu. Supaya
usaha-usaha tersebut bisa mendapatkan hasil yang efektif yaitu teratasinya
masalah kemacetan di Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar