Masyarakat
semakin tidak mempercayai sistem negara dan orang-orang yang bergelut dalam
politik dan aturan-aturan negara. Bagaimana tidak, kedudukan tertinggi di
negara, Ketua MK (Mahkamah Konstitusi) Akil Mochtar yang seharusnya menegakkan
hukum setegak-tegaknya malah ikut terjerumus
kasus besar Korupsi dalam sengketa Pilkada Lebak, Banten, dan Gunung
Mas, Kalimantan Tengah.
Jika MA (Mahkamah Agung) dan akhirnya disusul
oleh MK (Mahkamah Konstitusi) sudah mencemari namanya sendiri, siapa lagi yang
bisa dipercaya, apakah hanya KPK , yang berarti negara kita yang luas ini
banyak dihuni orang-orang yang tidak bisa dipercaya.
Presiden
SBY menangggapi kasus tersebut “Saya
melihatnya kasus hukum,tegakkan secara hukum. Jangan dicampuradukkan dengan
politik. Saya yakin penegak hukum tahu mana yang yang hukum dan mana yang politik.”
Dari pernyataan itu saja, kita bisa tahu ketua MK bukanlah orang bodoh, begitu
pula dengan koruptor-koruptor lainnya.
Mereka semua orang pintar, Lalu kenapa mereka korupsi? Apakah semua
orang pintar cenderung untuk berbuat licik dan akhirnya kita harus memilih
orang bodoh tapi jujur ataukah ada yang salah dengan pembelajaran kita selama
ini?
Dari kecil kita diajarkan dan dimotivasi untuk
menjadi orang pintar agar kelak menjadi orang yang bermanfaat. Tapi kemudian
akhirnya banyak orang cenderung pada kepentingan akalnya saja hingga
kepentingan moralnyapun agak tersingkirkan, mereka berfikir “Kalau pintar,
pasti sukses lah..”
Baiklah, perlu diketahui sukses disini
mempunyai makna yang ambigu. Sukses dalam mensejahterakan diri dan rakyatnya
ataukah sukses dalam mensejahterakan dirinya saja? Sedangkan sukses yang
berarti sukses sebenar-benarnya adalah Sukses yang tidak hanya bermanfaat pada
dirinya tapi juga untuk yang lainnya, bukan malah menyengsarakan yang lainnya.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk
menyandingkan pembelajaran otak dengan pelatihan moral yang baik guna mendapat
kesuksesan yang sebenarnya. Perlu diketahui pula, politik itu tidak kotor.
Di Indonesia, orang-orang yang bergelut dalam
politik itu saja yang kebanyakan kotor. Indonesia diibaratkan dengan kolam yang
besar tapi sangat kotor. Untuk membersihkannya, kita tidak bisa turun kekolam
tersebut mengambil lalu membuang kotoran-kotorannya. Karena kita akan ikut
kotor. Tapi yang harus kita lakukan adalah menyalakan keran yang mengalirkan
air bersih sederas-derasnya hingga kotoran tersebut keluar dari kolam. Siapakah
air bersih tersebut? Mereka adalah generasi-generasi yang tidak memikirkan
bagaimana menjadi pintar saja, tapi bagaimana menjadi pintar dan bermoral baik.
Siti Aminah
Mahasiswi HI A
UMM Malang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar